RSS

Jagalah Pendengaranmu Dari Nyanyian

24 Nov

oleh Aid Abdullah al-Qarni

Dalam kitab shahih al-Bukhari, Imam Bukhari mengatakan, pada hari raya, Aisyah ra menuturkan Rasulllah shallahu alaihi wassalam mendatangiku. Saat itu itu, aku di rumah bersama dua orang gadis temanku dan keduanya sedang asyik mendengarkan lagu-lagu peristiwa Bu’ats. Lalu beliau shallahu alaihi wassalam, langsung membaringkan dirinya di atas tempat tirdur sambil memalingkan dirinya di atas tempat tidur, seraya memalingkan wajahnya.

Lalu, Abu Bakar datang menegurku, “Nyanyian itu senandung setan, menurut Nabi shallahu alaihi wassalam,” ucapnya.

Hadist di atas mengandung beberapa persoalan yang penting untuk diketahui antara lain:

Peristiwa Buats, peristiwa pertempuran yang amat sengit antara suku Khazraja dan Aus. Keduanya adalah dua suku besar di Madinah. Peperangan itu disebut dengan “Peirstiwa Buats”, adalah karena terjadi di Buats, salah satu daerah di pinggiran kota Madinah.

Namun, karunia Allah Ta’ala, akhirnya hati kedua suku itu bisa bersatu dalam naungan Islam. Hal ini, ditegaskan Allah dalam firman-Nya:

وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنفَقْتَ مَا فِي الأَرْضِ جَمِيعاً مَّا أَلَّفَتْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ ﴿٦٣﴾

“Dan yang mempersatukan hati mereka, walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Mahaperkasa lagi Mahabijaksana”. (QS. al-Anfal [8] : 63)

Begitulah, kedua suku itu sebenarnya berasal dari satu keturunan, yaitu al-Azd. Namun, syetan berhasil meniupkan hawa kedengkian ke dalam jiwa mereka, sehingga terjadilah perang saudara yang cukup sengit diantara mereka. Tentang peristiwa ini Aisyah mengatakan, “Peristiwa Bu’ats merupakan peristiwa yang sengaja dipersembahkan Allah untuk Rasulullah shallahu alaihi wassalam.”

Mengapa demikian?

Karena, atas kebijaksanaan Allah, Rasulullah shallahu alaihi wassalam, diutus atau diperintahkan berhijrah ke Madinah setelah peristiwa Buats. Dikisahkan, dalam peristiwa itu suku Aus berperang dan saling membunuh satu sama lain, sehingga orang-orang tua mereka banyak yang mati terbunuh dan tinggal tersisa para pemudanya. Ini merupakan karunia Allah. Pasalnya, bila orang-orang tua masih ada pada saat Rasulullah shallahu alaihi wassalam, datang di Madinah, bisa jadi mereka saat itu telah melekat unsur-unsur kejahiliahan, sebagaimana kaum kafir Quraisy. Lain halnya dengan para generasi muda mereka kebanyakan mereka masih belum begitu terkontaminasi dengan sisi-sisi negatif kejahiliahan.

Singkatnya, peristiwa Buats merupakan sejarah kelam dan menyakitkan bagi suku Khazraj dan Aus. Dan kaum Yahudi selalu berupaya memisahkan hati mereka yang telah disatukan oleh Islam. Yakni dengan selalu mengungkit kembali peristiwa tersebut untuk mengadu domba dan membangkitkan emosi kedua belah pihak.

Yang demikian itu, karena kaum Yahudi mengetahui bahwa suku Aus dan Khazraj akan mudah terpancing emosi, keduanya manakala diingatkan kembali pada peristiwa itu.

Terkait dengan perkataan Aisyah ra, “Lalu Abu Bakar datang dan menegurku”. Abu Bakar adalah orang yang paling mudah marah. Bahkan, Umar ra pernah berkata, “Aku selalu menjaga kemarahan Abu Bakar”. Namun, demikian Allah Ta’ala mengetahui keikhlasan, ketaatan, dan ketulusannya dalam beribadah. Karena itulah, maka Allah pun mengangkat martabatnya menjadi umat Muhammad shallahu alaihi wassalam yang paling mulia.

Syahdan, kebiasaan atau adat penduduk Habasah dahulu, adalah bermain dan bersenandung di masjid. Dalam senandung itu, mereka sering mengatakan, “Syahdan, Muhammad adalah hamba yang shaleh. Syahdan Muhammad adalah hamba yang shaleh”. Perkataan seperti ini, tentu saja tidak sesuai dengan martabat dan kedudukan Rasulullah shallahu alaihi wassalam. Sebab, sebuah syair mengatakan, “Bukankah sebilah pedang akan berkurang wibawanya, jika dikatakan, tongkat itu lebih tajam dari pedang”.

Ketika Anda bermaksud memuji orang yang terhormat misalnya, tetapi Anda berkata kepadanya, “Engkau adalah manusia…” Apakah ini suatu pujian?

Seperti kita ketahui bersama Muhammad shallahu alaihi wassalam adalah hamba yang shaleh. Bahkan, ia adalah penghulu atau pemimpinnya orang-orang yang shaleh diseluruh pelosok dunia ini. Namun, ketika mendengar senandung itu, beliau shallahu alaihi wassalam ternyata tetap tersenyum.

Dalam riwayat lain disebutkan, ketika melihat mereka (penduduk Habasyah) itu bermain dan bersenandung di masjid, Umar ra mengambil kerikil-kerikil masjid dan melempar mereka. Lalu, ia berkata, “Bukankkah ini di masjid Rasulullah?”

Kemudia ia menengok dan melihat Rasulullah shallahu alaihi wassalam. Maka, ia pun berhenti. Lantas, Rasulullah shallahu alaihi wassalam menghampirinya, dan berkata, “Ya, Umar, biarkanlah mereka”.

Dalam riwayat lain disebutkan, Rasulullah shallahu alaihi wassalam, berkata, “Biarkanlah mereka, agar kaum Yahudi mengetahui, bahwa dalam agama kita terdapat kelonggaran”. Yakni, kemudahan, keringanan dan toleransi. Mendengar nasihat tersebut, Umar pun pergi meningggalkan mereka.

Setelah itu, Rasulullah shallahu alaihi wassalam berkata kepada Aisyah, “Apakah kamu ingin melihat pertunjukkan ini?”. Aisyah berkata, “Ya”. Maka Rasulullah shallahu alaihi wassalam menaruh Aisyah dibelakang punggungnya. Lalu Aisyah menempelkan pipinya ke pipi Rasulullah shallahu alailhi wassalam sambil melihat pertunjukkan itu. Setelah beberapa lama, Rasulullah shallahu alaihi wassalam bertanya kepadanya, “Sudah puaskan kamu? “Sudah”, jawab Aisyah. Maka Rasullullah shallahu alaihi wassalam berdiri. Lantas, Aisyah pun pergi seraya membenarkan cadarnya.

Hari Raya kaum Muslimin itu ada dua: Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha.

Anas menuturkan, ketika Rasulullah shallahu alaihi wassalam datang di Madinah, para penduduknya telah memiliki dua hari khusus untuk bersenang-senang. Maka beliau shallahu alaihi wassalam. Maka beliau shallahu alaihi wassalam, bertanya pada mereka, “Hari apakah kedua hari ini?”. Mereka menjawab, “Kami biasa bermain-main dalam kedua hari itu pada masa jahiliah”. Maka, Rasulullah berkata, “Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mengganti kedua hari ini untuk kelian dengan yang dua hari yang lebih baik: Hari Raya Idul Adha dan Hari Raya Idul Fitri”.

Jadi, hari raya bagi umat Islam adalah Idul Adha dan Idul Fitri. Karenanya, barangsiapa membuat perayaan-perayaan baru di luar kedua hari raya ini, dan kemudian mengkultuskan dan mengagung-ngagungkannya, niscaya ia telah berbuat kesalahan dan mengada-ada. Singkatnya, sebagai umat Islam, kita tidak mengenal Hari Ibu, Hari Anak, Hari Nasional, dan Hari Natal, dan Hari Tahun Baru Masehi, yang semuanya itu, tidak dibenarkan dalam agama Islam.

Sedangkan hari Jum’at, bisa juga disebut sebagai hari raya kecil bagi umat Islam. Karena itu, agungkanlah hari Jum’at dengan berdzikir, membaca al-Qur’an dan melaksanakan shalat Jum’at yang disyariatkan dalam agama Islam.

Di dalam Islam diperbolehkan bersuka ria dan bersenang-senang dengan permainan yang mubah pada hari raya. Misalnya, menyenandungkan syair-syair tanpa iringan gendang, seruling, gitar dan lain sebagainya. Diperbolehkan juga merayakan hari raya dengan berwisata, berekreasi, bersenda gurau, bercanda, bercengkerama, dan berpesta makanan ala kadarnya. Itulah bentuk-bentuk keceriaan dan kesukariaan yang diajarkan oleh para ulama.

Kemudian, muncul pertanyaan, apakah nyanyian itu diperbolehkan apa tidak?

Yang benar, bahwa nyanyian yang diiringi dengan alat-alat musik, seruling, gitar, gendang, biola, dan sejenisnya adalah hukumnya haram.

Rasulullah shallahu alahi wassalam, menegaskan keharamannya ini dalam hadist-hadistnya. Adapun dalam al-Qur’an, haramnya nyanyian (lagu-lagu) ini diisyaratakan oleh firman-Nya:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ ﴿٦﴾

“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokkan.”(QS. Lukman [31] : 6)

Yang dimaksud dengan perkataan yang tidak berguna oleh ayat di atas, tak lain adalah lagu-lagu, atau nyanyian. Tentang hal ini, Ibnu Mas’ud menegaskan, “Aku bersumpah atas nama Allah, bahwa yang dimaksud itu adalah nyanyian (nyanyian)”. Dalam shahih Bukhari, saat mengomentari pendapat Abu Malik al-Asyari, Imam Bukhari menuturkan, “Rasullulah shallahu alaihi wassalam, bersabda, ‘Beberapa kaum dari umatku kelak akan menghalalkan pakaian sutera, minuman keras, dan alat-alat musik’.” Dalam penghalalan ini, terjadi setelah jelas diharamkan oleh agama. Jadi, betapapun, beberapa hal itu tetap haram.

Menurut Ibnu Mas’ud, nyanyian itu menumbuhkan kemunafikan di dalam hati manusia sebagaimana air hujan menumbuhkan biakkan cendawan. Karena itu, seorang mukmin diharamkan mempergunakan kedua telinganya untuk mendengarkan nyanyian yang diiringi dengan suara-suara alat musik, kendang, biola, gitar, drum, seruling dan sejenisnya.

Apalagi seorang wanita . Nyanyian atau bernyanyi dengan diiringi denan suara alat musik itu sangat diharamkan dan tercela. Maka itu, marilah kita memohon perlindungan dan keselamatan dari Allah agar terlindung dari semau itu.

Hakikatnya, nyanyian itu bisa melalaikan seseorang berdzikir kepada Allah, membutakan hati, menjauhkan ruh dari ketaatan , menghambat tujuan, dan dapat menyeret manusia pada perbuatan zina dan keji.

Umar bin Abdul Aziz berkata kepada anak-anaknya, “Jauihilah nyanyian, karena ia akan mendekatkan perbuatan zina!”. Sementara itu, Uqbah bin Amir menasihati anak-anaknya sebagai berikut, “Jauhilah nyanyian-nyanyiah, sebab ia akan melalaikan kalian dari al-Qur’an dan menghalang-halangi dari mentaati Allah”.

Nyanyian dapat menumbuhkan kemunafikan di dalam hati. Pasalnya, orang yang selalu mendengarkan lagu-lagu (nyanyian) setiap pagi dan petang, niscaya pada diri orang itu akan terlihat kemunafikan. Paling tidak, ia akan memperlihatkan kebaikan-kebaikannya dalam menyembunyikan kejelekan-kejelekannya dihadapan orang lain. Dan itu itu disebabkan oleh nyanyian.

Nyanyian menimbulkan keasingan pada diri seorang hamba terhadap Tuhannya. Kalau sudah demikian, niscaya ia tidak akan memiliki semangat sedikit pun untuk berdzikir kepada Allah dan juga membawa al-Qur’an. Yakni, sebagaimana dilukiskan Ibnu Qayyim dalam syairnya:

“Mereka memperhatikan al-Qur’an kala dialunkan, bukan karena takut, melainkan hanya berpura-pura, namun saat nyanyian dilagukan, mereka berjoget. Sungguh, tak sedikit mereka bersujud demi Allah”.

Orang-orang yang suka bernyanyi dan mendengarkan lagu-lagu menganggap keindahan lagu-lagu itu segalanya. Karena itu, mereka tak bisa merasakan keindahan dan bergetar sedikitpun saat al-Qur’an dibaca. Wallahu’alam.

Sumber : http://www.eramuslim.com/nasihat-ulama/jagalah-pendengaranmu.html

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 November 2011 in Islami

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: