RSS

Menyampaikan Kebaikan dengan Kelembutan

30 Mei

Seperti yang tercantum dalam Al-Qur’an surat Al-Ashr, manusia berada dalam kerugian, kecuali jika ia beriman, beramal saleh, dan saling nasihat-menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Memang kewajiban kita sebagai sesama manusia untuk saling mengingatkan, mengajak pada kebaikan dan menasihati untuk menjauhi kemungkaran.

Namun, ketika menyampaikan sesuatu yang kita anggap benar, tak jarang kita terbawa emosi, apalagi saat menemui perbedaan pendapat. Bahkan terkadang, kebaikan yang hendak kita sampaikan jadi tertutup oleh cara kita yang kurang baik dalam menyampaikannya. Penggunaan kekerasan, pemaksaan, kata-kata kasar, penghinaan, atau kalimat yang bernada merendahkan serta memojokkan orang yang kita nasihati, tidak hanya menyakiti hati, tapi juga menciptakan rasa permusuhan dan antipati dari orang yang mendengarnya. Kalau sudah demikian, jangankan isi nasihat kita tersampaikan, kita justru akan dijauhi dan kehilangan kesempatan untuk berbuat kebaikan.

Dalam Al-Qur’an disebutkan:

Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah (lemah lembut) dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. (QS. An-Nahl: 125).

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu. (QS. Ali Imran: 159).

Rasulullah SAW bersabda:

“Seorang mukmin bukanlah pengumpat, pengutuk, berkata keji atau berkata busuk.” (HR. Bukhari dan Al- Hakim).

“Tidaklah seharusnya orang menyuruh yang makruf dan mencegah yang mungkar kecuali memiliki tiga sifat, yakni lemah-lembut dalam menyuruh dan melarang (mencegah), mengerti apa yang harus dilarang, dan adil terhadap apa yang harus dilarang.” (HR. Addailami).

Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang dijauhkan dari sifat lemah lembut, maka ia dijauhkan dari kebaikan.” (HR.Muslim).

Kita kadang lupa, bahwa kebenaran bukan hanya milik kita, bahwa setiap orang memiliki tingkat pengetahuan, pemahaman, dan sudut pandang yang berbeda. Apa yang menurut kita benar, belum tentu benar bagi orang lain, dan sebaliknya, sedangkan pengetahuan kita pun sangat terbatas untuk bisa merasa sebagai yang paling benar. Karenanya, untuk membantu orang lain menerima nasihat baik dari kita, tentu diperlukan cara yang baik pula, sehingga terjalin komunikasi yang baik.

Abu Hurairah ra. berkata: “Seorang Arab badui berdiri dan kencing di masjid, maka para sahabat ingin mengusirnya. Rasulullah SAW pun bersabda kepada mereka, “Biarkanlah dia dan siramlah bekas kencingnya dengan setimba air -atau dengan setimba besar air-. Sesungguhnya kalian diutus untuk memberi kemudahan dan tidak diutus untuk memberi kesusahan.” (HR. Bukhari).

Kemudian Rasulullah SAW memanggil Arab badui tersebut dalam keadaan tidak marah ataupun mencela. Beliau pun menasehatinya dengan lemah lembut:“Sesungguhnya masjid ini tidak pantas untuk membuang benda najis (seperti kencing) atau kotor. Hanya saja masjid itu dibangun sebagai tempat untuk dzikir kepada Allah, shalat, dan membaca Al-Qur’an.” (HR. Muslim).

Cara Rasulullah SAW ini menumbuhkan simpati di hati Arab badui tersebut, sehingga ia dapat menerima isi pesannya tanpa tersinggung. Perlu kita ingat, bahwa bukan hak kita untuk menghakimi, bukan kewajiban kita untuk mengubah seseorang. Tugas kita hanyalah saling mengingatkan, sejauh yang kita ketahui, dengan penuh kesabaran.

Dari ‘Aisyah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda:“Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah itu Maha Lembut, Dia mencintai sikap lemah lembut. Allah memberikan pada sikap lemah lembut sesuatu yang tidak Dia berikan pada sikap yang keras dan juga akan memberikan apa-apa yang tidak diberikan pada sikap lainnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari ‘Aisyah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda:“Sesungguhnya sifat lemah lembut itu tidak berada pada sesuatu melainkan dia akan menghiasinya (dengan kebaikan). Sebaliknya, tidaklah sifat itu dicabut dari sesuatu, melainkan dia akan membuatnya menjadi buruk.” (HR. Muslim).

Rasulullah SAW berkata pada ‘Aisyah ra.: “Sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha Lembut yang mencintai kelembutan dalam seluruh perkara.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Islam adalah agama yang mudah dan memudahkan, Allah mencintai kelembutan dan menciptakan banyak kebaikan untuk menyertainya. Maka berilah kemudahan ketika menasihati, dan lakukanlah dengan penuh kasih sayang serta kelembutan.

“Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang orang yang diharamkan dari neraka atau neraka diharamkan atasnya? Yaitu atas setiap orang yang dekat (dengan manusia), lemah lembut, lagi memudahkan.” (HR. Tirmidzi).

Sumber : http://www.alifmagz.com/

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 30 Mei 2011 in Islami

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s